KUPANG — Komunitas Gen Z Gejala yang tersebar di sejumlah desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mendapat pelatihan beternak dari Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pelatihan berlangsung di Sector’87, Kota Kupang, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh para ketua kelompok dari berbagai desa yang mewakili para anggota komunitas, serta perwakilan dari Maumolo Village.
Motor penggerak Komunitas Gen Z Gejala, Yarni Nabuasa, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan panen jagung secara simbolis yang dilaksanakan di kebun Gen Z Gejala, Desa Saisana, pada 12 Juni 2026 lalu.
“Saat itu, Kepala Bidang Peternakan Dinas Peternakan Provinsi NTT, drh. Henny, berjanji untuk memberikan pelatihan cara beternak bagi komunitas kami,” ujar Yarni yang akrab disapa Yaya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi tentang cara menetaskan telur Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan), cara merakit alat penetas dari bahan-bahan sederhana yang tersedia di rumah, serta teknik pembuatan pakan ternak.
Pelatihan menghadirkan empat narasumber. Jery Riada membawakan materi pengenalan alat mesin tetas telur beserta cara pembuatannya menggunakan alat seadanya. Folni Lasi memaparkan materi tentang penyakit pada unggas. Lucia mengulas penyusunan ransum dan cara pembuatan pakan ternak. Sementara Jonathan Tamoes menyampaikan materi tentang cara sukses menetaskan telur ayam kampung menggunakan mesin tetas.
“Kami tidak hanya dibekali ilmu, tetapi juga dimotivasi untuk terus membangun mimpi dari desa. Dinas Peternakan Provinsi berkomitmen akan selalu berdampingan dengan Gen Z Gejala,” kata Yaya.
Yaya juga menyampaikan apresiasi atas peran Fransiscus Go dan Yayasan Felix Maria Go (YFMG) yang dinilai membuka banyak peluang bagi komunitas, termasuk memfasilitasi kolaborasi dengan instansi pemerintah serta menjadi sponsor selama pelatihan berlangsung.
“Berkat kolaborasi antara Gen Z Gejala dan Yayasan Felix Maria Go, banyak pintu yang terbuka. Bapak Fransiscus Go bukan hanya memberi kesempatan untuk belajar, tetapi juga menjadi sponsor selama kami mengikuti pelatihan ini,” ungkapnya.
Ke depan, Yaya menegaskan komitmen komunitas untuk membangun kebun edukasi yang mencakup bidang pertanian, peternakan, dan perikanan secara terpadu sebagai wujud nyata pembangunan dari desa.

