Maumolo – Indonesia menghadapi ancaman serius yang sering luput dari perhatian publik: siapa yang akan menggarap sawah dan ladang dua puluh tahun ke depan? Data menunjukkan rata-rata usia petani Indonesia terus menua, sementara generasi muda semakin enggan meneruskan tradisi bertani yang telah menghidupi bangsa ini selama berabad-abad.
Fenomena ini terasa nyata di pelosok Nusa Tenggara Timur. Di Desa Maumolo, seperti halnya banyak desa lain di Indonesia, kaum muda berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman menuju kota, meninggalkan lahan pertanian yang perlahan kehilangan tangan penggarapnya.
Namun di tengah arus besar itu, Andre Setiawan memilih berjalan berlawanan arah. Alih-alih hengkang ke kota, pemuda yang tergabung dalam Nara Kupu Village (NKV) justru memilih Desa Maumolo sebagai tempat ia mencurahkan tenaga dan pikiran, menggerakkan masyarakat melalui program pertanian dan pemberdayaan desa.
Pilihan Andre bukan tanpa alasan. Baginya, desa bukan tempat yang ditinggalkan, melainkan tempat yang harus dibangun. Pertanian, dalam kata lain, adalah kemandirian bangsa yang tidak dapat terus-menerus diserahkan kepada generasi yang semakin menua tanpa ada yang menggantikannya.
Langkah konkret pun ia ambil. Andre terlibat langsung dalam pelatihan pertanian, pengembangan UMKM lokal, hingga pendidikan masyarakat desa — serangkaian pekerjaan yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar permukaan.
Yang membedakan pendekatan Andre dari banyak program pemberdayaan lainnya adalah konsistensi kehadirannya. Ia tidak datang dengan program sesaat lalu pergi. Ia tinggal, mendampingi, dan membangun kepercayaan warga secara perlahan — sebuah modal sosial yang jauh lebih berharga dari sekadar bantuan materi.
Hasilnya mulai terasa. Masyarakat Desa Maumolo perlahan menumbuhkan kepercayaan dirinya untuk mengelola potensi desa secara mandiri. Semangat kemandirian pangan mulai bersemi, dan peluang ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal mulai terbuka.
Manajer Desa Nara Kupu, Yosep Permana, melihat apa yang dilakukan Andre sebagai jawaban atas kekhawatiran besar yang selama ini menghantui sektor pertanian nasional. Menurutnya, bukan lahan yang kurang, bukan juga teknologi — yang paling langka justru adalah anak muda yang mau hadir dan bertahan.
“Andre Setiawan adalah contoh nyata anak muda yang mau turun langsung ke masyarakat. Kepeduliannya terhadap pertanian, UMKM, dan pemberdayaan masyarakat menjadi inspirasi besar bagi generasi muda lainnya,” tegas Yosep.
Yosep tekanan, semangat seperti yang dimiliki Andre adalah bahan bakar yang sesungguhnya dibutuhkan Indonesia untuk mendorong lahirnya pertanian mandiri dan berkelanjutan — bukan hanya di NTT, tetapi di seluruh pelosok negeri yang kini kekurangan penerus.
Perkembangan peran Nara Kupu Village menjadi relevan. Dengan konsep edu-farm yang memadukan perkebunan organik, gaya hidup farm-to-table, dan edukasi lingkungan, NKV bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ekosistem yang secara aktif melahirkan dan merawat bahwa kesadaran pertanian adalah pilihan hidup yang praktis.
Andre Setiawan mungkin hanya satu nama dari jutaan anak muda Indonesia. Namun dari Desa Maumolo yang sunyi, ia membuktikan satu hal yang penting: krisis regenerasi petani bukan takdir yang harus diterima, melainkan tantangan yang bisa dijawab — satu langkah, satu lahan, satu desa pada satu waktu.

