Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk perdebatan tentang masa depan generasi muda Indonesia, suara Fransiscus Go terdengar jernih dan tegas. Bagi pengusaha yang akrab disapa Frans ini, jawaban atas berbagai tantangan yang membelit anak muda Indonesia hari ini bukanlah sekadar menunggu lapangan pekerjaan terbuka—melainkan berani menciptakannya sendiri. Wirausaha, baginya, bukan pilihan terakhir, melainkan sebuah panggilan hidup.
“Wirausaha bukan hanya pekerjaan, tetapi gaya hidup yang menginspirasi kita untuk terus berkembang, belajar, dan menghadapi tantangan dengan keberanian,” ujar Frans. Kalimat itu bukan sekadar slogan. Bagi Frans, semangat wirausaha adalah fondasi yang harus ditanamkan sejak dini kepada generasi milenial, terutama di saat Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah yang krusial.
Frans menunjuk pada fenomena bonus demografi yang sedang dialami Indonesia saat ini sebagai konteks yang tidak bisa diabaikan. Kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia tidak produktif ini, menurutnya, adalah momentum langka yang hanya datang sekali dalam perjalanan sebuah bangsa. Peluang emas ini, jika tidak dimanfaatkan dengan bijak, bisa berbalik menjadi beban sosial yang berat.
Namun di balik peluang itu, tersimpan kenyataan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan Frans, saat ini terdapat 7,99 juta orang pengangguran di Indonesia. Angka itu bukan sekadar statistik dingin—di baliknya ada jutaan mimpi yang tertunda, jutaan keluarga yang berjuang, dan jutaan potensi yang belum menemukan salurannya.
Yang lebih menyentuh hati, dari 7,99 juta pengangguran itu, sebanyak 2,8 juta orang atau 33,45 persen dikategorikan mengalami hopeless of job—kondisi di mana seseorang sudah merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan dan berhenti mencari. Mereka bukan malas, bukan tidak mau berusaha. Banyak di antara mereka yang sudah lelah mencoba dan berkali-kali ditolak, hingga harapan itu perlahan padam.
“Kalau berbicara angkatan kerja, saat ini angkatan kerja di Indonesia mencapai 146,62 juta. Jumlah yang bekerja 138,6 juta,” papar Frans. Angka-angka ini memperlihatkan betapa besarnya tekanan yang dihadapi pasar tenaga kerja Indonesia. Kesenjangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan kerja terus menjadi tantangan yang belum terpecahkan dari tahun ke tahun.
Frans menegaskan, peluang sekaligus tantangan yang dihadapi kalangan milenial cukup besar dibandingkan dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, ditambah dengan penetrasi teknologi yang mengubah lanskap pekerjaan secara drastis, membuat banyak anak muda terjepit di antara ekspektasi dan realita. Di sinilah, menurut Frans, semangat wirausaha menjadi relevan lebih dari sebelumnya.
Wirausaha, dalam pandangan Frans, bukan hanya tentang membuka usaha dan meraup keuntungan. Lebih dari itu, jiwa wirausaha adalah tentang cara pandang seseorang terhadap masalah—melihat hambatan sebagai peluang, menghadapi kegagalan sebagai pelajaran, dan terus bergerak meski keadaan tidak mendukung. Mentalitas inilah yang ia nilai masih perlu terus diasah di kalangan generasi muda Indonesia, termasuk melalui sistem pendidikan, keluarga, dan komunitas.
Dukungan ekosistem yang kuat menjadi kunci agar semangat wirausaha muda tidak padam di tengah jalan. Akses terhadap modal, pelatihan yang relevan, pendampingan dari mentor berpengalaman, serta pemanfaatan teknologi digital adalah pilar-pilar yang perlu diperkuat secara bersama-sama. Indonesia memiliki lebih dari 65 juta UMKM yang menyerap hampir seluruh tenaga kerja informal—sebuah bukti nyata bahwa wirausaha kecil dan menengah adalah tulang punggung ekonomi bangsa yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, pesan Frans sederhana namun dalam: bonus demografi hanya akan bermakna jika generasi muda Indonesia berani mengambil kendali atas nasib mereka sendiri. Tidak perlu menunggu semua kondisi sempurna, tidak perlu menunggu pemerintah menyediakan segalanya. Mulai dari langkah kecil, bangun keberanian, dan jadikan wirausaha bukan sekadar pilihan—melainkan gaya hidup yang menggerakkan diri dan orang-orang di sekitarnya.

