<?xml version="1.0"?>
<oembed><version>1.0</version><provider_name>Yayasan Felix Maria</provider_name><provider_url>https://yayasanfelixmaria.com</provider_url><title>KOMENTAR APA LAGIKAH YANG TERSISA? - Yayasan Felix Maria</title><type>rich</type><width>600</width><height>338</height><html>&lt;blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="azgaUSIfaf"&gt;&lt;a href="https://yayasanfelixmaria.com/index.php/2026/06/04/komentar-apa-lagikah-yang-tersisa/"&gt;KOMENTAR APA LAGIKAH YANG TERSISA?&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;iframe sandbox="allow-scripts" security="restricted" src="https://yayasanfelixmaria.com/index.php/2026/06/04/komentar-apa-lagikah-yang-tersisa/embed/#?secret=azgaUSIfaf" width="600" height="338" title="&#x201C;KOMENTAR APA LAGIKAH YANG TERSISA?&#x201D; &#x2014; Yayasan Felix Maria" data-secret="azgaUSIfaf" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" class="wp-embedded-content"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;script&gt;
/*! This file is auto-generated */
!function(d,l){"use strict";l.querySelector&amp;&amp;d.addEventListener&amp;&amp;"undefined"!=typeof URL&amp;&amp;(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&amp;&amp;!/[^a-zA-Z0-9]/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret="'+t.secret+'"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret="'+t.secret+'"]'),c=new RegExp("^https?:$","i"),i=0;i&lt;o.length;i++)o[i].style.display="none";for(i=0;i&lt;a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&amp;&amp;(s.removeAttribute("style"),"height"===t.message?(1e3&lt;(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r&lt;200&amp;&amp;(r=200),s.height=r):"link"===t.message&amp;&amp;(r=new URL(s.getAttribute("src")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&amp;&amp;n.host===r.host&amp;&amp;l.activeElement===s&amp;&amp;(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener("message",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener("DOMContentLoaded",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll("iframe.wp-embedded-content"),r=0;r&lt;s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute("data-secret"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+="#?secret="+t,e.setAttribute("data-secret",t)),e.contentWindow.postMessage({message:"ready",secret:t},"*")},!1)))}(window,document);
&lt;/script&gt;
</html><thumbnail_url>http://yayasanfelixmaria.com/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-04-at-12.07.25.jpeg</thumbnail_url><thumbnail_width>1536</thumbnail_width><thumbnail_height>1024</thumbnail_height><description>Oleh: Fransiscus Go Pedagang kecil itu mungkin makhluk yang luar biasa. Mereka adalah satu-satunya spesies ekonomi yang setiap hari mendengar kabar harga naik, tetapi tetap dituntut tersenyum kepada pelanggan. Harga beras naik. Minyak goreng naik. Gas naik. Telur naik. Cabai naik. Bawang naik. Yang tidak naik cuma semangat hidup, karena sudah kelelahan duluan. Namun pedagang kecil masih berusaha bijaksana. Mereka tidak langsung menaikkan harga. Mencoba bertahan. Mencoba memahami keadaan. Mencoba menjadi pahlawan inflasi tanpa piagam penghargaan. &#x201C;Sudahlah, pakai harga lama saja.&#x201D; Begitu pikir mereka. Lalu mereka menunggu pembeli. Dan menunggu. Dan menunggu. Dan menunggu. Sampai lalat yang lewat mulai dianggap pelanggan potensial. Ternyata bukan hanya harga jual. Masalahnya pembeli juga sedang bertahan hidup. Pedagang kecil menurunkan margin. Pembeli menurunkan belanja. Yang naik hanya tagihan. Ekonomi Indonesia rupanya sedang menjalankan program kebugaran nasional: Semua orang dipaksa mengencangkan ikat pinggang. Bedanya, sebagian orang masih punya ikat pinggang. Sebagian lagi tinggal lubangnya. Di pasar, terdengar percakapan yang makin filosofis. &#x201C;Bu, berapa telur?&#x201D; &#x201C;Dua ribu.&#x201D; &#x201C;Hmm&#x2026;&#x201D; Lalu pergi. Padahal zaman dahulu orang bertanya harga untuk membeli. Sekarang bertanya harga untuk mengenang masa lalu. Seperti ziarah ekonomi. &#x201C;Oh&#x2026; dulu segini ya&#x2026;&#x201D; Pedagang gorengan mulai hafal ekspresi pelanggan. Ada ekspresi &#x201C;mau beli&#x201D;. Ekspresi &#x201C;cuma lihat-lihat&#x201D;. Espresi &#x201C;sedang menghitung saldo dalam hati&#x201D;. Dan ada ekspresi paling populer, &#x201C;Mbak, nanti saya balik lagi. Kalimat yang secara statistik memiliki tingkat kepastian sama dengan ramalan cuaca tujuh bulan ke depan. Pedagang bakso lebih tragis lagi. Dulu pelanggan bertanya, &#x201C;Baksonya isi apa?&#x201D; Sekarang bertanya, &#x201C;Kuahnya gratis kan?&#x201D; Pedagang kopi pinggir jalan juga bingung. Harga kopi belum naik banyak. Tapi pelanggan berkurang banyak. Ternyata rakyat sedang menjalankan puasa lain yang tidak diumumkan. Puasa belanja. Puasa nongkrong. Puasa jajan. Puasa bahagia. Sementara itu para pedagang kecil terus mendengar kabar-kabar optimistis. Ekonomi kuat. Fundamental kokoh. Konsumsi terjaga. Daya beli membaik. Mereka mendengarkan sambil melihat lapaknya yang kosong. Lalu mengangguk. Karena kalau tidak mengangguk, nanti dianggap tidak memahami teori. Padahal mereka memahami teori paling sederhana: Kalau pembeli tidak datang, teori apa pun tidak bisa dibungkus plastik kresek. Maka keluarlah komentar-komentar rakyat kecil. &#x201C;Dagang lagi sepi.&#x201D; &#x201C;Orang-orang lagi hemat.&#x201D; &#x201C;Susah sekarang.&#x201D; &#x201C;Yang penting sehat.&#x201D; Kalimat terakhir biasanya diucapkan ketika keuntungan sudah tidak sehat. Namun pertanyaannya adalah: Jika harga terus naik&#x2026; Pembeli terus menghilang&#x2026; Lapak terus sepi&#x2026; Tagihan terus berdatangan&#x2026; Dan kesabaran terus diuji&#x2026; Kira-kira komentar apa lagi yang akan keluar dari mulut pedagang kecil? Karena bisa jadi itu bukan lagi komentar ekonomi. Melainkan genre baru dalam ilmu pengetahuan: *Jeritan pasar yang akhirnya lulus menjadi makian.* Silakan tebak sendiri di kolom komentar&#x2026; kalau masih punya kuota.</description></oembed>
